Petani beras, beli beras?

Beberapa waktu yang lalu, Program Berita di tv dihiasi dengan kabar tentang petani padi.. Mereka kebanyakan bercocok tanam padi tetapi hanya bisa menjual dengan harga rendah saja. Setelah menjual hasil panen, mereka harus membeli beras lagi untuk hidup mereka sehari-hari..

Merasa aneh?....

Memang... rasanya aneh sekali... Petani padi malah membeli beras untuk hidupnya??? Yaahh.. gue cuma bisa membayangkan.. padi hasil panen mereka jual dengan harga rendah.. Kemudian hasil penjualan itu sebagiannya dibelikan beras (mungkin) dengan mutu yang lebih rendah untuk makan sehari-hari... Itu kalo mereka bisa makan nasi.. kalo penghasilannya minim, mereka malah makan singkong atau yang lainnya...

Merasa miris?....

Ya... gue merasa miris menonton berita itu di TV.. Buat apa kita kerja susah-susah nanam beras kalo akhirnya mesti beli lagi buat makan sehari2...

Apakah mereka hidup sejahtera?...

Jelas tidak... wong buat makan sehari-hari aja masih sulit... Mau jual beras/padi, dihargai rendah.. padahal si penampung hasil pertanian itu menjualnya dengan harga berkali lipat... Untung di makelar, pahit di petani....

Trus apa yang selanjutnya bisa terjadi?...

Mungkin suatu saat petani akan menyerah karena hidupnya tak kunjung membaik.. Meninggalkan usahanya bertani, trus beralih pekerjaan jadi makelar tanah, penjual mainan made in CHINA, atau supir taxi...

Trus sapa dong yang nanam beras untuk kita makan sehari-hari?.....
Don't know.... Mungkin suatu saat di Indonesia makanan pokok kita bukan beras lagi.. Karena di tanah air yang terkenal kesuburannya ini, petani tak lagi bisa survive...

Atau mungkin kita terpaksa beralih makan nasi hasil impor beras dari Thailand, tanpa ada pilihan yang lain....

Hiks.. sedihnya..


^Vd^

Comments

Berang said…
Dear Vidya,
Mohon maaf kemaren pas mudik tidak sempat mampir ke rumahmu karena kami hanya 2 malam di bengkulu. 2 malam hanya dihabiskan bertemu dengan keluarga besar dan malam terakhir bertemu dengan Iwan JR dan Elyan.

Mengenai petani yang dimiskinkan, sudah tidak terhitung lamgi berapa kali aku menemukan kasus2 seperti ini dalam setiap perjalananku ke beberapa daerah di Indonesia.

Mulai dari harga yang dipermainkan oleh para tengkulak dan pasar (penampung), harga pupuk yang selangit dan lahan persawahan yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit karena terbujuk rayuan para pengusaha sawit dan makelar tanah.

Yang menjadi lucu adalah, ketika banyak lahan-lahan produktif dan sawah-sawah yang dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit, presiden dan para menterinya selalu berkoar-koar indonesia harus bisa kembali menjadi negara yang swasebada pangan dan krisis pangan bisa teratasi. How come? hampir tersebar diseluruh negeri ini petani diterlantarkan, tidak ada kestabilan harga gabah/beras, pemerintah sendiri tidak berani menjamin harga pokok beras dan tidak berani menjamin pupuk yang murah dan kualitas bagus.

Pemerintah masih kalah dengan lobby-lobby para trader dan pengimpor beras. Bukan hanya beras, garam, bawang merah, gula dsb nya tidak bisa diredam lajunya masuk ke indonesia. Para oknum-oknum masih riang gembira bermain dengan komoditi impor karena banyak sekali uang yang bertebaran disana. Petani kita? jangan harap mereka (pejabat negara dan trander) mau memikirkan hidup para petani indonesia. Sedih memang jika kita tahu persis seperti apa perlakuan negara ini terhadap petani, nelayan dan masyarakat adat yang ada di Indonesia.

Semoga suatu saat kita bisa berbuat sesuatu untuk negara ini.

Salam,
Een
Vidy said…
Hai En...
Gpp Bro... I know u r busy.. :)
Iya en.. Kemana ya hati para pemimpin kita itu.. :'(

Popular Posts