Tetap Makan Nasi atau Makan Singkong??

Mulai hari ini, Ridwan Kamil mencanangkan 1 hari tanpa nasi untuk warga Bandung. Jadi, di hari Senin, pemerintah menetapkan PNS boleh makan apapun selain nasi.  Niatnya adalah mengurangi jumlah konsumsi beras/ nasi. Seperti kita tahu sekarang, saat ini Indonesia sedang kekurangan stok beras. Dan itu artinya jika kebutuhan tidak berkurang, maka impor beras akan meningkat.

Ada diskusi menarik dan sekaligus menggelitik saat mendengarkan PR FM saat berangkat ke kantor tadi. Dr. Kunkun, pembicara yang merupakan seorang ahli gizi mempertanyakan kebijakan yang diambil Ridwan Kamil ini. Saat ini dunia Barat sedang menggalakkan makan nasi. Kenapa? Coz, pada beras/ nasi, selain karbohidrat juga terdapat jumlah asam amino  yang baik. Jika nasi dimakan dengan kombinasi kacang-kacangan maka akan tercipta jumlah asam amino yang tepat yang baik untuk tubuh. Dr. Kunkun juga mengatakan bahwa gizi yang seimbang dapat diperoleh dari makanan yang terdiri dari 1 sumber karbohidrat, 1 sumber protein hewani, 1 sumber protein nabati dan juga sayur-sayuran dalam jumlah yang cukup. Dr Kunkun menyebutkan bahwa jika nasi ini diganti dengan singkong, maka jumlah protein yang dikandung singkong adalah 1/3 dari yang terkandung di dalam nasi. Untuk memperoleh jumlah protein yang sesuai dengan kebutuhan, maka kita harus makan lebih banyak singkong. Dan itu artinya kita bisa kelebihan karbohidrat. Dr Kunkun juga membandingkan nasi dengan terigu. Nasi sebagai sumber karbohidrat yang sedikit mungkin proses pengolahannya akan menjadi sumber gula yang menyumbangkan sedikit saja nilai pada peningkatan gula darah (yang sangat diperhatikan oleh penderita diabetes mellitus). Hal ini jauh berbeda dengan roti yang terbuat dari terigu. Terigu yang mengalami proses yang lebih panjang daripada beras, akan meningkatkan gula darah secara signifikan. Selain itu, terigu kita impor dari luar. Tidak ada tanaman gandum di Indonesia. Dan jika mengganti nasi dengan gandum, maka tentu bukan pilihan bijak dari sisi penghematan devisa.

Dr. Kunkun juga mengatakan bahwa jika intinya adalah penghematan, maka makanan pokok berupa nasi sudah sangat hemat. Dengan nasi, cukup menambahkan tempe/ tahu (cukup salah satu). Proteinnya sudah baik. Untuk melengkapi, tambahkan sumber hewani dan juga sayur-sayuran. Jadi singkong atau jagung tidak cocok dijadikan makanan pokok. Hanya cocok dijadikan cemilan, saat tubuh dirasa kurang mendapat asupan dari makanan pokok.

Bahan makanan yang kandungannya mendekati nasi adalah kentang. Namun, jika masih ada pilihan tentu lebih baik makan nasi... ^___^  Jadi sungguh aneh juga jika pemerintah menyarankan kita makan nasi, padahal dunia barat justru sedang menganjurkan masyarakatnya untuk makan nasi.... ^______^. Tapi tetap, pilihan ada di tangan kita....

^Vd^

Comments

Popular Posts